.
.
.
"A hiding place; a place of safety and comfort..."
***
Telingaku menangkap suara pintu yang dibuka.
Aku mengerjap pelan. Mataku yang belum sepenuhnya terbuka, sedikit mengintip ke jendela. Di sela-sela tirai, matahari masih malu-malu. Langit abu-abu.
Sosok itu datang. Sedang aku masih mencoba mengumpulkan seluruh kesadaranku.
Aroma kopi menyapa indera penciumanku. Samar-samar, kulihat cangkir kecil berwarna putih ditangannya. Asapnya masih mengepul.
Semakin mendekat, langkah kakinya terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Aku terpaku, tatkala kurasakan benda lembut menempel dikeningku cukup lama. Hangatnya menjalar ke seluruh saraf tubuhku.
Ia beralih ke telingaku. Napasnya begitu menggelitik, aku tak berkutik.
"Nyenyak?"
Aku terbangun.
Mataku menatap langit-langit, lalu berpindah ke tubuhku sendiri. Kudapati diriku tidur di atas sofa dengan selimut biru tebal yang menutupiku.
Bagaimana bisa aku ketiduran di sini?
"Sudah bangun?"
Deg! Seketika aku bangkit, menyibak selimut hingga benda itu terjatuh ke lantai.
TaeHyung yang ternyata sudah berdiri tepat di sisi sofa, membuatku terkejut setengah mati.
Apa dia sudah di sana sejak tadi?
Pria itu masih mengenakan piyama hitamnya. Rambut coklatnya yang kusut, dan wajah polosnya yang kelewat sempurna. Pemandangan baru setelah sebulan kami hidup bersama.
Di sisi lain, aku menggerutu dalam hati. Kuyakin rambutku benar-benar berantakan sekarang dan terlihat kacau-balau di hadapannya.
TaeHyung menatapku dengan senyum tertahan, "Maaf. Aku tak memindahkanmu, karena aku takut kau tak kan menyukainya."
Aku terdiam. Faktanya, TaeHyung sungguh menghormatiku. Aku menggigit bibir bawahku gusar, "Ti-tidak."
"Ini masih jam 6. Kalau kau mau tidur lagi, silahkan saja."
"Tidak. Kurasa, aku sudah cukup tidurnya." Aku menarik selimut dari lantai, kemudian melipatnya.
"Benarkah? Apa kau masih punya banyak waktu sebelum berangkat kerja?"
"Iya. Apa kau butuh sesuatu?" Ucapku sambil melipat.
TaeHyung berpikir sebentar, sementara aku menatapnya penasaran. Satu tangannya ia gosokkan kedagu.
Hingga kemudian, TaeHyung tersenyum lebar. Bibirnya membentuk kotak.
"Bantu aku bercukur."
---
TaeHyung membuntutiku hingga ke kamar mandi.
"Kau serius bisa?" TaeHyung bertanya lagi, dan ini sudah yang ketiga kalinya.
Aku menghela napas, "Kau bilang kau butuh bantuan."
"Iya, karena aku tidak bisa mencukurnya sendiri. Tidak bersih seluruhnya. Aku malu."
Aku berbalik menatapnya, "Kenapa malu? Pria kan wajar punya kumis dan jenggot."
Kuambil krim dan pisau cukur kecil dari dalam gelas kaca di ujung washtafel.
YOU ARE READING
BTS FANFICTION (방탄소년단의 팬픽션)
Fanfiction♤Kumpulan FanFic Oneshoot & Ficlet BTS♤ 《Imagine with BTS's members》 ♡Kim SeokJin■Kim NamJoon■Min YoonGi■Jung HoSeok■Park JiMin■Kim TaeHyung■Jeon JungKook♡ Don't forget to VoMent guys^^ Big♡♡♡
