Luke

28 7 1
                                    

"Kakak, ih! Katanya janji gak mau dimakan?!"

"Orang dikit, ah."

"Ini setengahnya-- Kak Cal! Ih, bener bener!"

"Dikit ah!"

"Udah, ih! Aku belom jilat juga!"

"Tunggu-- Ka!"

"Bagi, ah!"

"Mereka udah akur."

Gue menoleh kearah Jack, yang kini meletakkan teh di meja kecil disebelah gue; senyum kecilnya terkembang kecil, lantas ia duduk di pinggir tempat tidur gue, mengusap rambut gue lembut.

"You're gonna be fine, Lewi." Bisiknya, merengkuh gue kedalam pelukannya sesaat. "Dokter itu bukan Tuhan, dia gak berhak nentuin kapan lo mati."

I got it, the 'stage 3' thing.

Iya, stadium 3.

Waktu gue bahkan udah bisa ditentuin, secara medis.

Gue belom mau mati...

Gue mengangguk pelan; mau nangis juga rasanya gak guna. Dada gue sesak bukan main, pandangan gue buram, kepala gue makin sakit.

Lewi takut, ma, pa...

"Gue nggak mau mati, Jack..." Lirih gue, bersandar pasrah di dadanya begitu saja. "Gue takut..."

"Gue masih mau bareng mama," Isak gue, yang gak tau lagi harus gimana. "--bareng papa..."

"Bareng Kaka..."

"Bareng lo, bareng ben..."

"Bareng calum, mali..."

"Gue masih mau idup..." Gue memukul dada sendiri. Sekali, dua kali, tiga kali...

Gue meremas paha sendiri kali ini, kenapa sesaknya gak kunjung hilang?

"Lewi..." Lirih jack; menahan kedua tangan gue, agar tidak lagi memukul dada sendiri. "Lewi, gue udah bilang barusan, dia bukan Tuhan, dia gak bisa nentuin kapan lo mati."

"Bisa aja gue duluan," Ia mengusap rambut gue, "Bisa aja Ben duluan, bisa aja mama papa, atau bahkan calum. Kita gak pernah tau, Lew..."

"Lo harus yakin kalo lo bisa sehat lagi." Sambungnya. "Kita semua berharap banyak sama lo, Lew. Lo liat Kaka sekarang, siapa yang bikin dia begitu, kalo bukan lo?"

"Terus, lo mau nyerah gitu aja sama diagnosa dokter?"

"Kalo lo gak sanggup idup buat diri sendiri karena keparat yang idup di kepala lo, coba lo idup untuk orang lain. Lo mau liat kaka nangis ngeraung raung, ngeliat lo 'sekarat', padahal lo belom waktunya mati?"

"Lo mau liat mama papa nyalahin satu sama lain, karena lo 'sekarat', padahal lo belom waktunya mati?"

"Lo mau liat Calum nyalahin diri sendiri?"

"Lo mau Ben sama Mali makin jadi ributnya, karena mereka selalu nyalahin satu sama lain?"

"Jawab gua." Tegasnya, menggucang pelan bahu gue yang memang sudah bergetar karena menangis sejak tadi-- karena gue benar benar nggak tahu harus apa. "Lewi, jawab gua."

"Lo juga bukan Tuhan, Jack!" Seru gue frustasi. "Lo gak bisa bilang kalo gue masih punya waktu!"

"Neither do you!" Serunya balik. "Lo juga bukan Tuhan, Lew! Lo bisa mengira ngira kapan lo bakal mati, tapi lo cuma bisa mengira; semuanya, itu bukan lo yang menentukan! Lo bukan Tuhan! Catet itu!"

Kakak • lrhHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin