Until I Collapse Part 36

3.8K 439 9
                                        

Day 12 Dbl Cup

Hari ke-dua belas bertepatan pertandingan semifinal menuju final. Setelah lolos 8 besar, Tim basket Salazar berhasil lolos semifinal melawan Smansa. Suara sorakan dari seluruh penjuru tribun tidak kalah ramai dari sebelumnya. Tak hanya itu, dagangan yang Zee dan Oniel jual pun semakin banyak dan juga semakin laris.

"Alhamdulillah makin hari makin banyak nih dagangan. Laris manis." ucap Oniel sambil mengibaskan uangnya itu sebagai kipas.

Seperti biasa, mereka berdua setelah berdagang larinya selalu ke distro milik Lulu. Sekalian nongkrong di belakang.

"Udah lo hitung, Zee?" tanya Oniel. "Dapet berapa?"

"Dapat 1.700.000." jawab Zee. "Mantap nggak?"

Mata Oniel berbinar. "Sumpah?! Segitu banyak, Zee?!" Zee mengangguk santai. "Demi apa?!!"

"Demi gue supaya bisa pacaran sama Marsha."

"Sialan lo. Serius gue, beneran segitu banyak tuh duit?" Oniel masih tidak percaya.

"Iyaa, Oniel yang jeleknya kayak babi. Nanya mulu lo kayak dora!"

"Bagus lah gue dora nya, lo boots monyetnya. Sahabat bahagia."

Zee mendengus kesal. "Kampret lo!"

"Gimana dagangan? Masih nampol?" tanya Jessi yang tiba-tiba datang sambil membawa paper bag yang berisi jajanan sempol.

Oniel mengacungkan jempol. "Nampol betul, Jess." jawab Oniel. "Lo bawa apa tuh?"

"Sempol. Mau nggak?" tawar Jessi sambil menyodorkan paper bag nya."

Oniel bangkit dari duduknya. "Ya, mau lah." jawabnya sambil menebas celananya yang kotor.

"Cuci tangan dulu! Jorok lo abis duduk dari bawah." ucap Jessi menyingkirkan paper bag nya dari Oniel.

Oniel berdecak. "Iya iya. Bawel lo!"

"Widih, dagangan makin laris aja nih," ujar Adel "Besok jalan lagi nggak lo berdua?"

Zee menggeleng. "Pas final aja. Lebih rame makin mantap tuh pasti."

Adel manggut-manggut. "Mantap!" Ia mengacungkan jempol. "Duitnya langsung lo setor ke Lulu kan?"

"Iya lah, masa iya gue makan tuh duit. Ya haram, bukan duit gue juga." jawab Zee.

"Bagus. Pinter." balas Adel.

Sementara itu, Lulu dan Olla sibuk melayani pengunjung yang tiada hentinya berdatangan, sekaligus melihat-lihat model kaos yang ada disana. Sampai akhirnya, seorang gadis datang menyapa mereka dengan hangat.

"Hai!" sapa gadis itu, Marsha.

Lulu yang baru saja hendak berbalik, ia urungkan karena mendengar sapaan dari Marsha.

"Oh, hai!" Lulu membalas sapaan dari Marsha.

"Distro ini punya lo ka?" tanya Marsha. Lulu mengangguk. "Gue dengar katanya ada kaos desain-an baru, masih ada?"

"Eh ada Mbak Marsha," ujar Olla yang tiba-tiba datang masuk dari luar. "Sendirian nih? Nggak sama Freya?"

Marsha mengangguk. "Iya, sendirian."

"Bentar, biar gue tebak, mau beli kaos model desain baru ya?" tanya Olla dengan tingkat kepedean akut.

Marsha terkekeh. "Iya. Desain-an Jessi kan?"

"Iya. anaknya lagi pada ngumpul sama yang laen."

Tanpa sengaja, Olla melirik ke arah Lulu yang sedang menatapnya datar, sekaligus memberikan kode menggunakan manik matanya itu pertanda menyuruhnya untuk pergi. Dan untung saja Marsha tidak melihatnya.

Until I Collapse (FreFlo)Where stories live. Discover now