4.3 EXTRA PART SEPTIHAN: PODIUM

397K 33.6K 52.5K
                                    

Haii hai semuanya aku kangen banget! Gimana udah kangen pasangan Septian Aidan Nugroho & Jihan Halana?

Absen dulu di sini nama kamu yang baca part ini💗

Jam berapa kamu baca part ini

Isiin semua paragraf dengan komentarmu ya! Siap menyelami ceritanya?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Isiin semua paragraf dengan komentarmu ya! Siap menyelami ceritanya?

4.3 EXTRA PART SEPTIHAN: PODIUM

"Ada banyak hal yang bisa kita nikmati di sepanjang jalan." — Jihan Halana

"Kadang kita tersenyum dan tertawa untuk menutupi banyak hal. Termasuk rasa sakit yang tidak bisa kita jelaskan pada siapapun." — Septihan

Septian Aidan Nugroho: Hari ini kamu bakal nontonin aku?

Jihan Halana: Hm gimana ya aku jawabnya?

Septian Aidan Nugroho: Awas kamu ya kalau ketemu

Jihan tertawa membacanya lalu menyusuri koridor sekolah. Ia menengadah karena hujan dan rintiknya membasahi telapak tangan dan wajahnya. Perempuan itu melangkahkan kakinya untuk menembus keadaan dengan kedua tangan naik di atas kepalanya namun tiba-tiba dari arah belakang seorang laki-laki menghampiri dan merangkul pundaknya dengan erat dan hangat. Jihan menoleh kaget karena Septian memberinya tumpangan payung untuk mereka berdua dengan tatapan teduh.

"Bisa sendiri?" tanya Septian terselip nada khawatir di suaranya.

Namun Jihan justru terpaku memandang Septian yang berbisik di samping telinganya. Itu membuat Jihan mendadak merinding mendengarnya.

Jihan mengangguk. "Bisa, kok kamu di sini? Bukannya sebentar lagi acaranya mulai?"

Septian bergumam. "Sepuluh menit lagi."

"Musim hujan jangan sampe sakit," pesan Septian dingin mengambil jaket putihnya dan memasangkannya pada tubuh Jihan saat mereka tiba di depan pintu LAB.

Jihan tidak tahu harus bagaimana memuji Septian. Tapi seperti itulah Septian. Susah ditebak dengan semua perlakuannya. Kemarin bahkan Septian datang membawakan Ibunya banyak makanan. Bahkan membantu Ayah Jihan membersihkan mobilnya dengan kaus oblong hitam.

"Duduk di mana nanti?" tanya Septian.

"Sama Kejora di kanan kayanya." Jihan mengira-ngira.

"Kamu mau ke sana? Iya udah hati-hati. Ohiya semangat semoga lancar," Jihan mengepalkan kedua tangannya di samping pipinya—menyemangati Septian yang membuat Septian memperhatikannya dengan senang lalu bergumam datar untuk berpamitan menuju ke ruangan podium.

Septian lalu memegang sebuah nama di tangan sebagai penyemangatnya. "Jihan Halana," gumam cowok itu.

****

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang