24. ISI KAMERA SEPTIAN (2)

968K 92.5K 56.2K
                                    

24. ISI KAMERA SEPTIAN (2)

Selalu jadi tempat berkeluh kesah. Padahal hati ini tidak tahu harus menceritakan masalah sendiri pada siapa.” — Jihan Halana

Seorang perempuan baru saja keluar dari rumahnya. Kulit putih pucatnya terpapar sedikit sinar matahari. Rambut panjangnya menjuntai hingga punggung. Jihan menutup pintu untuk pergi ke sekolah namun ketika melihat sebuah motor baru berhenti di depan gerbang rumahnya membuat Jihan terkejut. Jihan mengenal motor itu. Motor yang pernah dipakai Septian saat mengantarnya pulang dulu.

Jihan menggeleng. Enggak Jihan. Motor kaya gitu banyak. Gak cuman punya Septian doang! batin Jihan.

Tapi pengendaranya laki-laki. Pakai jaket hitam juga celana sekolah.

“Jihan hati-hati! Inget tutup gerbangnya!” ucap Arum, mamanya.

“Iya Ma!” balas Jihan sama berteriak.

Hubungan mereka memang membaik setelah Jihan akhirnya memberi restu saat Ibunya akan menikah dengan pria lain. Pria yang sering kali meneliti wajah Jihan dengan tatapan yang membuat Jihan kurang suka.

Jihan lalu membuka gerbang dan menutupnya. Saat menoleh ke kiri degup jantung Jihan jadi bertalu-talu. Rasanya langsung panas seketika karena perawakan dan punggung cowok yang sedang duduk di motor itu seperti Septian. Saking groginya Jihan. Perempuan itu sampai tidak mau menoleh dan malah menatap jalanan sambil melangkah.

“Kenapa pergi?” Jihan terkesiap mendengarnya. Perempuan itu menoleh dan melihat Septian.

“Kenapa lo di sini?” tanya Jihan. Malah balik bertanya.

“Lewat,” jawab Septian.

TAHAN JIHAN! TAHANN!! batin Jihan berseru. Kalau tidak ingat Septian ada di depannya saat ini. Mungkin bisa dipastikan Jihan terbang saking senangnya.

“Tapi kan rumah lo jauh dari sini,” ucap Jihan.

“Iya emang jauh. Lagi mau lewat sini,” ucap Septian.

ENGGAK JIHAN! ENGGAK! ENGGAK BOLEH LULUH!! batin Jihan kembali berseru.

INGET JIHAN DIA UDAH SAMA THALITA!! batin Jihan kembali mengingatkan dirinya.

“Ke sekolah sama siapa?” tanya Septian.

“Sendiri,” jawab Jihan tanpa menatap Septian.

“Kenapa liat ke bawah terus? Emangnya gue nakutin ya?” tanya Septian lembut. Hal itu refleks membuat Jihan mengangkat kepala dan langsung menatap wajah Septian.

“Enggak kok Septian!” jawab Jihan, terbata.

“Trus kenapa lo kalau diajakin ngobrol selalu ngeliat yang lain?” tanya Septian membuat Jihan makin grogi. Dulu Jihan sangat ingin Septian seperti ini padanya. Tapi saat Septian sudah memperlakukannya seperti ini Jihan justru malah ingin pergi.

“Kalau diajak ngomong sama gue itu liat muka gue. Jangan liat ke bawah terus,” ucap Septian.

“Iya...”

Jihan menjawab pelan. Perempuan itu memperhatikan Septian yang meninggalkannya lalu naik ke atas motornya dan menggunakan helmnya kembali. Cowok itu lalu mengendarai motornya agar sampai ke Jihan.

“Mau ke sekolah bareng?” tawar Septian.

MAUUUUUU!! MAU BANGETTTTTT!! tapi Jihan tidak mungkin bereaksi seperti itu di depan Septian. Tengsin.

“Mmm emang boleh?” itulah yang keluar dari mulut Jihan.

“Boleh. Siapa yang bakal larang?” balas Septian.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang