17. CEMBURU

1M 84.9K 53.3K
                                    

17. CEMBURU

Selalu ada aku yang menunggumu datang. Selalu ada aku yang tak berani dekat. Padahal sepasang mataku selalu memperhatikanmu dari jauh. Kamu sama sekali tidak salah. Bukan kamu yang tidak peka. Hanya saja aku yang tidak berani. Hanya saja aku yang terlalu ingin.” — Jihan Halana

Septian sedang berjalan di lorong sekolah. Cowok itu baru saja keluar dari LAB sekolah. Langkahnya santai namun tegap. Kemeja sekolahnya rapi. Satu tangannya sedang membawa tes dan satu tangannya lagi masuk ke dalam saku celana sekolah. Hal itu jadi pemandangan paling ditunggu anak-anak kelas sebelah Septian. Khususnya kaum perempuan.

Namun Jihan yang sudah melihat itu mendengus. Tidak akan membiarkannya!

“Septiannnnnn!” Septian tidak berhenti. Itu pasti Jihan. Jihan dengan mulut cerewetnya. Tapi perempuan ini beda. Septian tidak bisa menjelaskan tingkahnya. Kadang bisa begini. Kadang bisa begitu. Kadang juga tingkahnya bisa konyol bin ajaib. Septian saja bingung melihatnya.

Tapi Tidak. Septian tidak suka pada Jihan.

“Septian! Kok dipanggil-panggil gak nyaut sih? Gak denger apa pura-pura gak denger?” tanya Jihan curiga.

“Septian kok diem aja sih?”

“Septian?? Pilih Jihan atau Thalita?” tanya Jihan. Masih sempat-sempatnya.

“Katanya udah gak peduli. Ngapain nyari gue?” tanya Septian membuat Jihan cemberut. Menukik kedua alisnya. Hendak protes karena cowok itu mengalihkan pertanyaannya. Namun tidak bisa. Kata-kata Septian membuatnya malu.

“Gak bisa nyuekin,” ungkap Jihan jujur.

“Emangnya gak boleh ya?”

“Enggak,” balas Septian pendek.

“Ih kok gitu???????!”

Septian tidak membahasnya. Mulutnya tetap tertutup rapat selama berjalan.

“IHHH?? KATANYA SEMANGAT KAMU ITU AKU?” ucap Jihan membuat Septian berhenti. Menoleh pada cewek itu. Memberi peringatan lewat tatapan mata membuat Jihan nyengir—sambil meringis. Cewek itu menggaruk kepalanya, salah tingkah.

“Jangan teriak-teriak Jihan,” tegur Septian dengan nada pelan. Hanya segitu saja berhasil membuat rasa kesal Jihan hilang. Lenyap begitu saja.

“Iya maaf. Makanya jawab dulu,” paksa Jihan. Perempuan itu sampai berani mengamit lengan Septian membuat cowok itu menoleh lalu menghela napas dan melepaskan tangan Jihan darinya. Cewek ini sangat agresif dengannya.

“Udah bel masuk kelas.”

“Terus kenapa?”

“Masuk kelas,” suruh Septian.

“Kalau gak mau?”

“Kamu kenapa sih jauh-jauh terus? Aku kan pengin deket-deket!” ucap Jihan pada Septian.

“Tapi gue gak mau deket-deket,” jawab Septian ketus.

“Ih kok gitu? Kamu jauh-jauh karena takut diliat Thalita ya?” tebak Jihan. Menyebut nama Thalita membuat Jihan tidak rela.

“Jihan,” panggil Septian pelan.

“IYAAA?!”

Septian terdiam sebentar. Meredam emosinya. Cowok itu ingin mengatakan sesuatu yang akan menyakiti hati Jihan namun Septian lagi-lagi berpikir. Septian tidak tega setelah menatap kedua mata bening Jihan yang memancar penuh antusias padanya. Perempuan ini tampak tulus bersamanya. Tipe perempuan yang mungkin mau diajak susah kalau saja Septian hidup susah.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang