16. KEPINGAN

960K 84.2K 64.8K
                                    

16. KEPINGAN

Kalau dengan bersuara tak juga membuatnya sadar mungkin diammu akan membuatnya mengerti.” — Jihan Halana

Kesukaan Jihan selain merecoki Septian adalah mengumpulkan perangko-perangko lama milik Ayahnya di binder pink juga mengoleksi foto-foto artis korea. Dalam satu galeri hape mungkin lebih banyak foto idol daripada fotonya sendiri. Mulai dari Stray Kids, NCT, BTS, Red Velvet, Twice dan masih banyak lagi. Bias Jihan ada puluhan bahkan ratusan.

“Jihan entar bisa?” tanya Zaki menghampiri Jihan.

Jihan mengangguk, “Iya bisa kok Zaki. Kalau boleh tau siapa sih yang mau lo kasih kado?” kemarin malam Zaki mengiriminya pesan. Minta dianter beli kado. Katanya buat cewek tapi Jihan tidak tahu untuk siapa.

“Buat adik gue nih. Dia ulang tahun sekarang,” ucap Zaki.

“Eh lo suka Twice?” tanya Zaki pada Jihan setelah melihat isi Binder Jihan membuat Jihan mengerutkan keningnya. Zaki tau Twice??

“Suka nih kenapa? Lo juga suka?” tanya Jihan.

Cowok itu duduk di samping Jihan. Memperhatikan foto-foto orang korea yang ditempel Jihan di dalam bindernya, “Awalnya gue gak tau tapi adik gue sering banget nyanyi lagu-lagu mereka. Padahal bahasanya dia amburadul tapi tetep aja dia nyanyi. Kadang juga dia teriak-teriak sampe joget-joget di kamar. Dia hafal banget dari awal sampe akhir,” ucap Zaki tertawa renyah.

Mungkin kalau Jihan tidak suka Septian. Jihan pasti akan jatuh cinta pada cowok hangat ini.

Jihan menghela napas diam-diam mengingat Septian. Jihan sudah mengira bahwa hari ini Septian tidak akan sama seperti kemarin. Tadi Jihan melihatnya di parkiran. Cowok itu tidak menyapanya juga terlihat engga menoleh. Pandangan mereka sempat bertemu tapi dalam detik berikutnya Septian sudah pergi meninggalkannya.

“Lo kenapa gak minta ke cewek atau gebetan lo aja buat anterin?” tanya Jihan pada Zaki.

“Gak punya gebetan gue,” aku Zaki sambil tertawa dan mengusap leher belakangnya.

“Orang kaya lo gak punya gebetan? Masa sih? Kalau kata gue sih lo pasti banyak yang suka nih. Gak mungkin gitu orang secakep lo gak punya gebetan. Apalagi lo kan banyak temennya. Pasti banyak cewek yang deketin,” ucap Jihan membalasnya dengan bercanda.

“Lo juga cakep tapi gak ada yang punya,” balas Zaki meledek Jihan.

“Eh iya juga ya?” lalu Jihan tertawa lalu tersenyum. “Yaudah deh gue anterin ntar pulang sekolahnya.”

Sementara itu dari jauh Septian tetap tenang. Cowok itu sedang menunggu bel masuk kelas. Pagi ini teman-temannya sedang berdiri dan bercanda di depan Laboraturium. Septian berdiri di paling pojok—sibuk dengan kameranya. Cowok itu mengatur ISO juga memfokuskan pandangannya lewat kamera ke sebuah pohon besar di depannya namun tiba-tiba arah pandang dan tangannya bergeser pada Jihan. Perempuan itu sedang tertawa. Satu kali, dua kali bahkan tiga kali. Septian berhasil mengambil foto perempuan itu diam-diam. Dari tertawa, tersenyum sampai nyengir lucu.

Itu momen yang sangat bagus bagi Septian.

Tapi tawa, senyum dan cengiran itu bukan untuk Septian. Melainkan untuk cowok lain.

“Woi Sep! Ngelamun mulu. Ayo masuk ke dalem,” tegur Jordan. Septian dengan cepat-cepat menurunkan kameranya. Cowok itu sudah melihat Jihan dan Zaki berjalan bersisian di lorong seberang untuk masuk kelas. Sementara Septian pun masuk ke dalam LAB.

“Sep! Nanti pinjem kamera ya gue sama Jordan mau foto-foto di depan Lab!” ucap Guntur.

“Ngapain foto-foto di depan Lab sekolah. Malu-maluin gue aja lo!” balas Galaksi pada Guntur.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang