15. PERASAAN BARU

917K 88K 77.1K
                                    

15. PERASAAN BARU

Laki-laki selalu dinilai dari tindakannya. Bukan hanya perkataannya.” — Septian Aidan Nugroho

Septian melirik Jihan. Secara tidak sadar perempuan itu turun duluan. Meninggalkan Septian yang tadinya sedang duduk di atas motor lalu memilih berdiri dan bersender di gerbang rumah Kakek dan Neneknya—memperhatikan Jihan yang masih belum sadar bahwa Septian tidak mengikutinya.

“Ihhh Septian kok hilang?!” ucap Jihan tersadar.

“Ih Septain kok ketinggalan sih?!” ujar Jihan itu saat menoleh pada Septian dan kembali lagi ke belakang.

“Septian rumahnya bener yang ini? Gede banget Tian. Bukan rumah ini mah. Tapi istana!” seru Jihan takjub.

“Jadi minder kalau masuk ke dalem. Perlu lepas sepatu gak Tian?” tanya Jihan. Hal itu membuat Septian terus memperhatikan perempuan ini dengan padangan dalam.

Jihan memang aneh. Mungkin kalau cewek lain yang Septian ajak ke sini pasti bukan pertanyaan ini yang keluar dari mulut mereka.

“Pake gitu aja gak pa-pa. Lebih manusia,” ucap Septian dengan sabar.

“Aku kucel banget. Udah kaya gembel. Sementara kamu enggak. Udah kaya langit sama bumi. Udah kaya pembantu sama majikan,” ucap Jihan lalu cewek itu tertawa.

“Inget janji. Jangan bertingkah yang aneh-aneh,” ucap Septian mulai serius.

“Iyaaa siap! Yang tadi itu cuman bercanda. Aku gak katrok-katrok banget. Yang tadi itu biar aku gak grogi. Pemanasan gitu Tian,” alibi Jihan pada Septian yang masih menatapnya datar. Punggung cowok itu lalu berdiri tegak tidak lagi bersender. Membuat Jihan ikut mundur.

Septian menurunkan tangannya. Mengambil sebelah tangan Jihan. Menjadikannya satu dalam celah-celah jari tangannya. Genggaman tangan itu tidak kuat namun berhasil membuat Jihan merasa terlindungi. Tangan Jihan terasa sangat dingin di tangannya yang hangat. Tapi sepertinya tangan itu memang tercipta hanya untuknya. Sementara Jihan malah menatap Septian dengan pandangan terkejut. Perempuan itu seketika diam diperlakukan seperti itu oleh Septian.

“Ayo masuk,” ajak Septian.

Cowok itu mengajak Jihan ke dalam. Yang pertama kali dilihat Jihan saat masuk rumah putih ini adalah tangga yang panjang sampai ke atas. Lalu barang-barang antik yang terpajang di sisi kanan dan kirinya. Rumah ini kelas elit. Tapi sumpah demi Tuhan. Jihan mendekati Septian bukan karena cowok itu punya atau kaya. Jihan memang sudah suka pada Septian dari dulu. Bahkan ketika dia belum tahu siapa nama cowok ini.

“Septian,” bisik Jihan. “Sepi ya?”

“Iya tapi kayanya Nenek belum tidur. Kedua lampu kamarnya hidup. Biasanya kalau dia tidur. Satu lampunya mati,” ucap Septian. Sangat hafal dengan kebiasaan Neneknya. Septian lalu mengajak Jihan masuk ke dalam kamar. Dan benar saja Neneknya memang belum tidur. Beliau sedang duduk di kursi roda sambil menatap ke jendela.

“Siapa?”

‹Nenek, Septian pulang,” ujar Septian sendu.

Jihan terpaku begitu saja ketika mendengar suara Septian. Cowok itu menghampiri Neneknya lalu setengah merunduk untuk salim tangan. Hal itu membuat Jihan tiba-tiba merasa sesak. Pasti sulit menjadi Septian. Tidak punya orangtua sejak kecil. Bahkan sejak cowok itu dilahirkan.

Jihan lalu mendekat. Ikut salim tangan, “Saya Jihan, Nek. Temennya Septian.” Jihan tersenyum pada Nenek Septian namun wanita itu tidak membalas senyuman Jihan. Malah menampakkan wajah tidak peduli dan judes. Hal itu membuat Jihan jadi gelisah.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang