13. SEBASTIAN: SEBATAS TEMAN TANPA KEPASTIAN

849K 82.9K 56K
                                    

13. SEBASTIAN: SEBATAS TEMAN TANPA KEPASTIAN

Katanya teman. Tapi rasanya lebih.” — Jihan Halana

Mungkin Jihan merasa sangat percaya diri karena Septian terus membelanya. Tapi kenyataannya cowok itu membela Jihan karena iba. Bukan karena Septian suka padanya. Mungkin Septian memang tidak pernah ada rasa padanya. Memikirkan hal itu membuat Jihan merasa sedih. Banyak hal sudah Jihan lakukan untuk Septian. Tapi cowok itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa.

“Kalau digituin terus. Gimana bisa selesai soalnya? Yang ada nanti rusak buku lo.” Jihan mengangkat pandang. Ada Zaki baru saja duduk di depannya. Cowok itu tampak charming. Tapi tetap tidak secharming Septian. Bagi Jihan, di SMA Ganesha. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona seorang Septian Aidan Nugroho.

Jihan menghela napas. Rasa-rasanya isi kepala Jihan kini mungkin hanya tentang Septian.

“Lagi pusing gue,” keluh Jihan.

“Pusing kenapa? Mikirin Septian?” tepat sasaran. Zaki seolah tahu apa yang sedang Jihan pikirkan.

“Sedikit,” ujar Jihan.

Zaki menatap Jihan dengan satu alis terangkat, geli. “Sedikit? Banyak juga gak pa-pa kali. Orang juga kalau lewat pasti tau kalau lo lagi mikirin Septian,” ucapnya.

Cowok itu tanpa permisi mengambil puding yang ada di atas meja dekat lapangan. Jihan sengaja mencari tempat nyaman agar tidak ada yang mengganggunya. Namun kehadiran cowok berwajah oriental muda ini semakin mengacaukan suasana hatinya.

“ZAKI!! Itu puding gue!” protes Jihan.

“Minta dikit doang. Enak nih,” ujar Zaki setelah makan. “Lo bisa bikin ginian?”

“Bisalah! Ngeremehin gue banget!” Jihan merebut kotak makanannya. Tinggal sisa sedikit. Zaki hanya memperhatikan Jihan dengan wajah tanpa bersalah. Lalu cowok itu tertawa—entah karena apa membuat Jihan semakin kesal.

“Lo kalau lagi cemberut gitu imut banget ya?” kata Zaki blak-blakan memuji Jihan.

Jihan tersipu. Cewek itu langsung diam. Berharap dalam hati Zaki akan pergi namun cowok itu tidak pergi. Malah semakin mengganggunya dengan merebut apa yang sedang Jihan pegang. Zaki ini pintar. Walau enggak sepintar Septian. Tapi cowok ini otaknya encer. Bisa diandalkan. Jihan menghela napas. Septian lagi Septian.

“Lo ngapain?” tanya Jihan pada Zaki yang berkutat pada soal dan pensilnya.

“Kerjain punya lo lah,” jawab Zaki enteng.

“Emang lo bisa?”

“Kalau gue bisa. Gue bakal dapet apa dari lo?” tanya Zaki. “Dapetin hati lo, gimana?”

“SEP! SEP! JIHAN SELINGKUH TUH SAMA ZAKIIII!!” adu Nyong.

Gerombolan murid lelaki itu sedang berjalan hendak melewati lapangan. Mereka semua sedang bawa tas. Pasti baru datang. Tumben Septian datang jam segini? Biasanya juga cowok itu paling tidak pernah hampir terlambat. Paling-paling sekali dua kali. Kadang Septian berangkat duluan ke sekolah daripada menunggu teman-temannya yang masih sibuk siap-siap. Tidak mau barengan.

“WADUH SEP! GAK BISA DIBIARIN INI! CEWEK LO NIH KECIDUK SAMA ZAKI!” ujar Guntur, melebih-lebihkan. “WADUH SEP! LO UDAH KECOLONGAN SAMA NIH BULE AMRIK!!”

“Sejak kapan Septian sama Jihan jadian?” tanya Zaki. “Setau gue Septian gak suka sama Jihan. Gitu kan Sep? Lo gak suka sama Jihan kan?” tanya cowok itu.

“Apa peduli lo?” ujar Septian. Cowok itu memandang Jihan dengan sirat dingin lalu beralih ke Zaki dan meninggalkannya tanpa sepatah kata. Jihan menatap Septian sambil menahan napas. Cowok itu pasti mikir yang macam-macam. Maka dengan cepat Jihan membereskan alat-alat tulisnya yang ada di atas meja lalu berlarian menghampiri Septian.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang