35. AWAN

975K 79.7K 134K
                                    

35. AWAN

“Laki-laki baik itu pacarku.” Jihan Halana

Padahal kamu cuman diem aja. Gak ngapa-ngapain aku. Tapi kok aku suka ya?

Dulu cuman liat aja udah seneng banget. Sekarang bisa ngobrol berdua sama kamu itu kaya mimpi

Dulu aku cuman kagum sama kamu. Dalem hati ngomong “kapan ya punya cowok kaya gitu?

Diperjalanan menuju ke tempat pamannya Septian mengingat kata-kata Jihan yang pernah cewek itu ceritakan di halaman belakang rumah Septian saat keduanya sedang istirahat. Cewek itu bahkan sengaja menyenderkan kepalanya di pundak Septian membuat Septian mengulurkan tangannya untuk memeluk bahu perempuan itu dari belakang hingga ke depan.

“Jangan tinggalin aku ya?” ujar Jihan pada Septian.

“Hmm,” balas Septian.

“Bener ya?”

“Iya Jihan,” balas Septian penuh pengertian.

Septian dengan tergesa-gesa masuk ke dalam tempat Pamannya. Begitu keluar lift Septian masuk ke ruangan dan melihat pria tersebut sedang memandang foto Ayah Septian dengan kelas kaca berkaki panjang di tangannya.

“Masuk aja Septian. Bukannya ini punya kamu?” begitulah kata Paman Septian.

Septian tahu perusahaan ini miliknya. Septian menutup pintu agar pembicaraan mereka private meskipun Septian tahu orang-orang di sini sudah pada pulang dan ada beberapa yang masih lembur. Apa Septian takut? Tentu saja Septian tidak takut menghadapi orang yang sudah membunuh Ayahnya.

“Apa kabarnya kamu,” tanyanya sambil membalikan badan. “Sehat?”

“Langsung aja,” kata Septian tampak tidak ingin berbasa-basi.

“Kamu enggak mau duduk dulu? Minum?” tanyanya menawarkan minuman.

Sorry saya gak minum alkohol,” balas Septian.

Pamannya tersenyum. “Kamu persis Ayah kamu. Kakak saya,” sebutnya.

“Setelah  membunuhnya. Anda masih nyebut Ayah saya Kakak? Di mana otak Anda waktu nabrak dia?” balas Septian tambah membuat Pamannya tersenyum.

“Ternyata keberanian kamu juga nurun dari Papa kamu,” kata Pamannya mengintari meja. “Sekarang kamu udah besar. Terakhir kali dulu sebelum Om dipenjara. Om liat kamu masih kecil. Masih bayi malah,” ujarnya sambil tertawa sendu.

Septian terpaku. Tidak mungkin kan Septian melihatnya sedang bersedih?

“Duduk dulu. Om akan ceritakan ke kamu bagaimana kejadiannya,” ujar Pamannya. “Kamu pasti penasaran kan?”

“Gak ada yang perlu diceritain,” ujar Septian tidak mau mengungkit luka lama.

Irwan, Pamannya pun maklum. “Om tau kamu marah,” Pamannya mendekat dan menyentuh pundak Septian dengan lembut namun Septian menggerakan pundaknya hingga pegangan itu terhempas.

“Om juga tau kamu enggak bakal bisa maafin Om. Tapi kali ini biarin Om jelasin dari sudut pandang Om.”

“Gue udah denger semuanya dari orang-orang. Masih kurang apalagi?” Septian yang marah pun tidak bisa mengontrol dirinya.

“Om tau perasaan kamu. Gimana rasanya gak punya orangtua di masa muda tapi—”

“Gak usah sok tah!” balas Septian. “Lo gak tau apa-apa tentang gue!” balas Septian semakin kesal. Dadanya naik turun karena menahan amarah.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang