12. DIA YANG SEDERHANA

868K 77.3K 36.4K
                                    

12. DIA YANG SEDERHANA

Darinya aku belajar hidup sederhana.
Tanpa banyak mengeluh.
Dengan banyak bersyukur.
— Jihan Halana untuk Septian Aidan Nugroho

Hari ini seperti biasa Jihan ingin mencari Septian. Lebih tepatnya ngapelin tuh cowok tapi Septian tidak ada di kelasnya. Ini harusnya yang cowok malah kebalik jadi cewek yang ngapelin tuh cowok. Benar kata Septian. Urat malu Jihan benar-benar sudah putus.

“GUNTUR! Septian manaaa?” tanya Jihan.

“Mana saya tau. Saya kan gak tau,” jawab Guntur. Nyeleneh seperti biasa.

“Eh Nyong! Liat Septian di mana gak?”

“Saya juga gak tau tuh,” ujar Nyong mengikuti Guntur. “Tanya aja yang lain Neng.”

“Ih kenapa jawabnya pada kaya gitu?” ujar Jihan dengan raut sedih. “Maaf tapi pasti karena kejadian kemarin ya makanya kalian jadi kaya gitu? Maaf banget enggak bermaksud ngerusak temenan kalian.”

“Iya tau,” ujar Bams. “Septian sama Oji udah baikan kemarin. Santai aja Han. Kita gak marah kok cuman kesel dikit.”

“Apa bedanya Bambang?” ujar Guntur kesal di sebelahnya.

“Ya bedalah,” ujar Bams terkekeh. “Tapi untung udah baikan. Kalau enggak, bisa gonjang-ganjing nih kelas nanti. Karena kita kalau udah ada yang musuhan bakal pecah. Bisa ada yang mihak ini bisa ada yang mihak itu.”

“Maaf gue gak bermaksud,” ujar Jihan merasa bersalah.

“Bukan salah lo kok Han. Maafin gue ya?” ujar Oji tiba-tiba muncul dari balik punggung perempuan itu. Perempuan itu lalu hanya mengangguk menjawabnya.

Jihan mungkin tidak sadar. Tapi setelah kejadian kemarin malam. Teman-temannya jadi berpikir dua kali untuk menggoda apalagi mendekati Jihan. Karena tidak pernah sekali pun semarah-marahnya Septian. Cowok itu sampai mukulin temannya selama dua kali. Setelah mengantar Jihan pulang dengan aman. Cowok itu kembali datang ke rumahnya. Mukulin Oji. Hingga ketika Oji berjanji tidak akan melakukan itu lagi baru Septian berhenti.

Bahkan Jordan, Bams dan Galaksi saja kelelahan menghadang Septian. Cowok itu begitu kuat. Kemarahan itu begitu nyata di kedua matanya. Lalu beberapa jam kemudian. Septian meminta maaf pada Oji begitu pun sebaliknya. Mereka lalu duduk bersama. Nonton bola dan Oji mulai berseru-seru gila ketika tim sepak bola kesayangannya menang. Lalu disela-sela jam dini hari ketika semua temannya sudah tepar di karpet Septian berkata penuh nada peringatan pada Oji, “Jangan gitu lagi sama cewek. Jangan paksa kalau dia enggak suka.”

“Eh, Galaksi! Liat Septian di mana enggak?” tanya Jihan pada bos anak-anak Ravispa itu.

“Ada di lab IPA. Lagi praktik sama Thalita. Kalau gak salah lagi nerangin ke adik-adik kelas juga,” ujar Galaksi.

“Nyariin dia? Lebih baik jangan dulu. Nantian aja,” saran Galaksi.

“Tapi kangen,” ujar Jihan membuat cowok-cowok itu langsung tertawa.

“Buset Han. Jadi cewek gak ada jaga image, jaga imagenya dikit. Pantes Septian gak suka sama lo,” ujar Bams.

“Iya Han. Gak yakin gue kalau lo ini cewek,” ujar Jordan. “Gue yakin lo ini pasti cowok yang terperangkap di tubuh cewek,” ujar Bams lagi.

“IHHH ENAK AJA!! GUE CEWEK TAU!! UDAH DULU YA MAU CARI TIAN DULU! DADAAHHH!!” ujar Jihan membuat keenam cowok itu menatap heran.

“Jadi cakep ternyata enak terus ya? Gak perlu nyari udah dikejar duluan,” ujar Bams. “Selalu diutamain. Kalau yang kaya kita-kita gini? Boro-boro.”

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang