19. KITA

973K 86.1K 43.8K
                                    

19. KITA

Perihal waktu bisa merubah seseorang tapi tidak akan bisa merubah segala kenangan yang telah dilaluinya.” — Jihan Halana

“Udah gak marah lagi?” tanya Septian.

Jihan memandang Septian lama. Masih terbius. Kedua matanya tidak bisa lepas dari Septian. Wajahnya bersemu merah lalu perempuan itu merunduk lemas. Makin gugup.

“Gue minta maaf karena seenaknya,” Septian dengan terang-terangan mengakui kesalahannya.

Pertahanan Jihan runtuh. Perempuan itu membisu. Sementara Septian menunggu apa yang akan keluar dari bibir Jihan—masih mendekapnya dengan jarak yang sangat dekat. Tapi yang Septian rasakan kini adalah tubuh Jihan lemas. Perempuan itu shock berkepanjangan.

“Jihan?” Septian memanggilnya dengan halus. Menyadarkan perempuan itu.

“Iya?” jawab Jihan seolah terhipnotis.

“Mau pulang gak? Udah mau sore. Bentar lagi mungkin hujan,” ucap Septian dengan wajah jutek.

Jihan termangu. Seharusnya Jihan menampar laki-laki ini karena bersikap kurang ajar padanya. Seharusnya Jihan memukul laki-laki ini. Tapi kinerja otak, tubuh dan hatinya berbeda-beda.

Septian bergerak pergi. Kedua kaki panjang laki-laki itu melangkah ke depan. Menuju ke sekolah. Mencari motornya. Namun dalam tiap langkahnya terselip ragu yang sulit dijelaskan. Bisa-bisanya Septian melakukan hal seperti itu pada Jihan.

Atas dasar apa juga Septian tidak tahu kenapa dia bisa melakukan itu.

“Septian!”

“Septian??!”

“Septian???!”

“Apa?” Septian menoleh. Raut wajahnya berubah jengkel dan datar membuat Jihan menggaruk dahinya. Salah tingkah karena diperhatikan seperti itu.

“Enggak jadi.” Jihan lalu berbalik badan. Perempuan itu pergi dari sekolah sampai ke gerbang besar SMA Ganesha.

“Mau ke mana?” tanya Septian.

“Ngantin. Ngambil kepekaan kamu yang ketinggalan,” jawab Jihan acuh tak acuh.

“Mau ke mana?” tanya Septian sekali lagi dengan serius.

“Nyelem. Nyari siluman ubur-ubur. Sekalian mau cari Patrick. Siapa tau dia minggat dari rumah batunya,” jawab Jihan ngasal.

“Udah tau mau ke depan malah pake nanya. Makanya mas. Kalau punya otak itu jangan dipake belajar terus. Kepinteran malah jadi kaya gitu tuh.” Jihan menunjuk kepala Septian dari jauh.

Sementara Septian? Cowok itu hanya diam memandang aneh Jihan.

“Jangan ke depan.”

“Lah? Kenapa?”

“Jangan.”

“Kenapa sih? Aneh banget.” Begitu Jihan berbalik badan—tidak menghiraukannya sama sekali. Saat itu juga ada motor yang baru saja akan melintas ke gerbang. Kejadian itu sangat cepat. Jihan menabrak motor itu. Membuatnya jatuh ke bawah. Kepalanya terbentur paving dengan kuat. Kakinya lecet dan berdarah. Sementara Septian langsung menghampirinya dengan tergesa-gesa.

“WOII SETAN! YANG BENER KALAU JALAN!!” teriakan kasar itu membuat Septian memperhatikan cowok yang berseragam sama dengannya itu melintas dan ke parkiran untuk menaruh motornya lalu tergesa-gesa pergi ke lorong.

Jihan mengangkat wajahnya ketika Septian berkali-kali bertanya keadaannya. Kedua matanya langsung mengabur. Buram. Jihan merasa kedua telinganya berdegung. Semuanya mendadak seputih kabut. Napas Jihan kalap. Jantungnya jadi berdebar. Sekuat tenaga Jihan mengendalikan dirinya agar pengelihatannya kembali. Selang beberapa detik setelah penyesuaian warna dengan matanya. Keadaan tampak kembali normal. Namun kaki, lengan dan kepalanya terasa sakit.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang