4.8 EXTRA PART SEPTIHAN: BETTER BELIEVE ME

144K 14K 5K
                                    

Haloww semuanya jam berapa kalian baca part ini?

— Sebelumnya mau bilang follow dulu yuk KaryaKarsa: PoppiPertiwi untuk dapetin notif lanjutan extra part bagian ini nanti dijelasin di AN atau Instagram: Writerpi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

— Sebelumnya mau bilang follow dulu yuk KaryaKarsa: PoppiPertiwi untuk dapetin notif lanjutan extra part bagian ini nanti dijelasin di AN atau Instagram: Writerpi

Siapa kemarin yang udah baca part lanjutan 4.7 Septihan di KaryaKarsa?

Kasih kita spaman 🔥 biar exicted sama semangat baca part ini

Isi paragraf di tiap linenya ready?💗💗

4.8 Extra Part Septihan: Better Believe Me

"Dengarkan apa yang pantas didengarkan. Dan jangan dengarkan apa yang tidak pantas didengarkan. Sebaik-baiknya diri hanya kamu yang tau siapa dirimu sendiri."

Septian Aidan Nugroho: Bentar lagi aku sampe
Septian Aidan Nugroho: Kamu lagi apa Jihan?

Kalau saja Septian tidak ada di situasi seperti ini — butuh investor keluarga pasti ia akan datang untuk menemui Jihan. Namun terjebak dengan Alis—anak Pak Albern membuatnya hanya diam saja dan ingin cepat pulang.

"Mau mampir kak?" tanya Alis.

"Enggak," balas Septian singkat.

"Kak Septian kurang enjoy ya?"

Septian hanya diam saja.

"Aku tuh dari dulu udah denger tentang Kakak. Baru kali ini bisa sedeket ini." Alis tersenyum, matanya menyipit. Persis seperti orang Jepang.

"Ini surat lanjutan buat Pak Albern," Septian memberikan surat itu di mobil, agar ia bisa cepat pulang.

"Nanti aku sampein Papa, Kak," Alis mengambilnya lalu tangannya tak sengaja bersentuhan dengan Septian. Septian menariknya. Sementara Alis langsung merasa aneh setelahnya, tampak malu-malu.

"Jadwal kamu kapan lagi?"

"Besok kak les balet."

Septian bergumam. Alis lalu pamit dan masuk ke dalam. Sementara Septian memilih pergi secepatnya dari sana karena sudah ingin beristirahat.

Alis atau Alicia. Anak Pak Albern—orang yang sudah bersedia mempertahankan sahamnya di perusahaan keluarganya. Awalnya mereka bersedia, namun hari berikutnya justru berubah— bersyarat untuk tetap menemani Alis.

"Kamu kenapa kok pulang-pulang gak ngucap salam?" tanya Neneknya.

Septian yang baru turun mobil memperhatikannya. Namun Septian memang hanya diam saja.

Neneknya lalu menghampiri. "Halo Nek," Septian menyaliminya.

"Kamu ini udah kaya pekerja kantoran pulang jam segini. Kamu kan masih sekolah," ucap Neneknya, protes.

Septian tersenyum kecil. "Iya Nek tadi ada urusan."

"Pak Albern?"

Septian terkejut karena Neneknya tahu mengenai hal tersebut. Dari kejauhan Septian melihat Pamannya, Irawan. Pasti Pamannya yang memberitahu Neneknya.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang