7. RASA YANG BERBEDA

999K 82.9K 45.3K
                                    

7. RASA YANG BERBEDA

Mengapa dia dengan mudah mendapat perhatianmu sedangkan aku harus berjuang dulu agar kamu mau melihatku?” — Jihan Halana

“Lo tau gak kenapa gue ngajakin lo ke sini?” tanya Bams pada Septian. Cowok itu sedang membawa ponsel berlogo apple di tangan kanannya yang berada di atas paha. Peluh mengalir dari rambut Septian hingga pipinya.

“Dari tadi lo diem aja. Sariawan lo Sep?” Bams semakin jengah. Cowok itu sengaja mengajak Septian nongkrong di warung dekat SMA Kencana. “Nih ya. Lo denger. Kalau Galak tau gue ngajakin lo nongkrong deket SMA Kencana. Matilah gue kena amuk dia. Tau sendiri Galak kaya banteng suka nyeruduk. Nyeruduk.”

“Jangan basa-basi. Situasi lagi gak asik. Lo mau ngomongin apa?” Begitulah Septian. Tak suka berbasa-basi. Dari sudut matanya, Septian dapat melihat beberapa anak Avegar sedang memandang ke arah meja mereka.

Bams malah tersenyum simpul. “Gue jadi yakin lo itu Cenayang. Cenayang apa Kuyang, Sep?” Bams masih sempat-sempatnya bercanda.

“Gak lucu lo,” sahut Septian datar.

“Ya emang gak lucu. Siapa juga yang bilang gue lagi ngelucu?” Bams yang tak ingin dibantah. “Gue kan bukan badut ancol atau topeng monyet, Sep. Bagaimana sih lu?”

Septian menghela napas lelah. “Lo mau ngomongin apa, Bams?”

“Oke gue serius deh. Kalau gue gak serius bisa-bisa ini gue yang bakal lo ajak ribut.” Bams cengengesan.

“Ada apa? Gue tau lo ngajakin gue ke sini pasti ada maunya.”

Astaghfirullah suudzon. Tapi emang bener sih,” Bams terkekeh-kekeh melihat wajah datar Septian. “Udah napa Sep. Jangan gitu banget liatin guenya. Gue tau gue emang cakep. Bahkan lebih cakep dari lo.”

Septian tak membalas. Matanya terarah pada jalanan yang sepi. Ada beberapa murid yang sedang menunggu di sisi-sisi jalan. Meskipun kini zaman sudah canggih penuh dengan teknologi dan transportasi yang menarik. Namun tetap saja kebanyakan murid masih menggunakan angkot umum atau sepeda motor untuk pulang sekolah.

“SEP! SEP! ITU DIA!” Bams memanggil histeris. Melihat mobil putih Mauren masuk areal lapangan gedung markas Avegar.

“Itu Mauren?”

“JIHAN JUGA DI SANA DODOL!” Bams berseru. “BURUAN!”

“Jihan?” tanya Septian.

“Nanti gue ceritain. Buruan!” Bams dan Septian lalu berdiri. Tak lupa cowok jangkung itu menaruh selembar uang merah di atas meja dan bergegas pergi dengan Bams.

“Waduh si Mauren mau ngapain si Jihan tuh?” Bams bersembunyi di balik semak bersama Septian—mengamati keduanya. “Gak mungkin kan Mauren tiba-tiba mau baikan sama Jihan? Mauren belum segila itu buat baikan sama Jihan.”

Bams dan Septian masih menunggu. Mauren keluar lalu membuka pintu belakang. Bukan hanya Mauren. Ada Mona dan Wenda yang ikut serta. Menurunkan Jihan dengan paksa. Membuat perempuan itu berontak meski tenaganya kalah kuat dengan Mona dan Wenda yang sedang memegang tangannya. Bams memang tahu apa yang akan dilakukan Mauren. Sempat ia dengar Mauren berbincang di telepon untuk membawa izin Jihan ke wilayah Avegar. Mungkin dengan salah satu mantannya agar bisa dapat akses yang baik di tempat ini. Karena markas Avegar adalah daerah terlarang anak-anak Ravispa. Jadi tidak mungkin tiba-tiba mereka bisa ada di sini kalau tidak tahu. Bams memang sengaja—termasuk mengajak Septian ke tempat ini. Selain membuktikan sendiri dengan mata apa yang ia dengar di sekolah tadi. Bams juga ingin lihat seberapa besar Septian peduli dengan Jihan.

SEPTIHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang