Chapter 27 : Love of Self

110 11 0
                                        

𝘾𝙤𝙣𝙩𝙚𝙣𝙩 𝙒𝙖𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜: 𝙏𝙧𝙪𝙨𝙩 𝙄𝙨𝙨𝙪𝙚𝙨

[Mohon untuk bijak dalam hal membaca dan menanggapi cerita ini, sekian dan terimakasih]

===||===

Kala berjalan pelan mendekati Anta yang sudah duduk di pinggir jembatan kayu itu dan dia langsung duduk di sampingnya. Mereka berdua mengayunkan kedua kakinya bersamaan dan menatap lurus, memandangi kota di seberang danau. Kala melirik ke arah Anta dan bola matanya perlahan menurun ke bawah. Setelah dia melihat tangan Anta yang sedang tidak memegang apapun, dia dengan sangat hati-hati menggerakkan tangan kirinya itu kemudian menyentuh ujung jari tangan kanan Anta.

Anta tersentak dan melihat ke bawah — ke arah tangannya. Dia pun menoleh ke arah Kala dengan tatapan datar sedangkan Kala tersenyum nyengir padanya. "Kau ini ngambil kesempatan aja ...."

"Ya nggak apa-apa kan?" tanya Kala yang tersenyum manis padanya. Anta menghela napas pelan dan membiarkan Kala memegangi tangannya. Mereka berdua pun menikmati pemandangan senja dan melihat matahari terbenam di balik kota itu. Anta melirik pelan ke arah Kala yang masih melihat pemandangan senja itu. Dia tersenyum dan berharap dengan keputusannya tadi adalah awalan yang baik untuk dirinya juga untuk Kala.

Keesokan harinya, Anta senyum-senyum sendiri sembari memandangi layar ponselnya itu. Adit yang keheranan pun melirik ke samping — ke arah ponselnya Anta. Dia terkejut ketika melihat pesan dari WhatsApp yang ternyata Anta sedang mengirim pesan dengan Kala. "Ciee ~ yang lagi ngechat sama dia ~ ," goda Adit dan Anta langsung membalikkan ponselnya.

"A-apaan sih!"

"Udah dekat aja nih ~ "

"Diamlah!," bisik Anta padanya. Adit pun menggelengkan kepalanya pelan dan melanjutkan acara makannya. Mereka sekarang berada di kantin dan hanya berdua saja.

Ya, berdua saja karena Maya masih diskors selama tiga hari.

Tentu yang mereka rasakan saat ini terasa begitu sepi karena tidak ada Maya di antara mereka. "Sepi ya kalau Maya nggak di sini ...." Ujar Adit sembari menggulung mie gorengnya dengan garpu.

"Kau benar, Dit. Siapa suruh juga dia berantem sama Mala, kan jadinya dia diskors!"

Adit pun memutar bola matanya. "Tapi dia melakukan itu kan demi membelamu!"

"Iya sih ...," sahut Anta sambil tersenyum nyengir.

"Oh ya catatan untuk Maya udah kau kasi?"

Anta mengangguk pelan. "Udah kok, tapi tetap aja dia nggak ngerti dan minta aku untuk ngajarin dia!," jawabnya sambil mendesah kesal.

"Ya ajari aja dia, aku ikut bantu kok"

"Oke deh, hmm kapan?"

"Sabtu aja gimana?"

"Boleh deh"

Adit melihat dari arah depannya — tepat di belakang Anta, segerombolan kakak kelas menghampiri mereka. Di antara mereka ada Dion yang berjalan di depan teman-temannya itu. "Hei," sapanya pada Anta dan juga Adit.

Dia pun langsung duduk di sebelah Anta dan teman-temannya pun mengikutinya — ada yang duduk di sebelah Anta juga dan beberapa duduk di sebelah Adit. Mereka sudah terkepung dan Anta mulai sedikit panik, tapi Adit tidak — dia justru menatap tajam pada Dion.

"Tenang ~ kami kesini nggak ngebully kalian kok," ujar salah satu rekannya Dion.

Dion yang dari tadi menatap Anta pun memanggilnya dan Anta langsung menyahutinya, biarpun sedikit gagap.

𝑼𝒏𝒇𝒐𝒓𝒆𝒔𝒆𝒆𝒏 𝑻𝒊𝒆𝒔 [COMPLETED]Tempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang